Sabtu, 31 Agustus 2013

Dalam Labuhan Lembutnya Kasihmu

Penulis: Ummu Ishaq Zulfa Husein

Suami adalah nahkoda dalam bahtera rumah tangga, demikian
syariat telah menetapkan. Dengan kesempurnaan hikmah-Nya,
Allah ta`ala telah mengangkat suami sebagai qawwam
(pemimpin).

”Kaum pria adalah qawwam bagi kaum wanita…." (An-Nisa: 34)

Suamilah yang kelak akan ditanya dan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Allah ta`ala tentang
keluarganya, sebagaimana diberitakan oleh Rasul yang mulia
shallallahu alaihi wasallam:

"Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan
kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban)
tentang mereka." (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 2554 dan
Muslim no. 1829)



Dalam menjalankan fungsinya ini, seorang suami tidak boleh
bersikap masa bodoh, keras, kaku dan kasar terhadap
keluarganya. Bahkan sebaliknya, ia harus mengenakan
perhiasan akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan kasih
sayang. Meski pada dasarnya ia adalah seorang yang
berwatak keras dan kaku, namun ketika berinteraksi dengan
orang lain, terlebih lagi dengan istri dan anak-anaknya,
ia harus bisa bersikap lunak agar mereka tidak menjauh dan
berpaling. Dan sikap lemah lembut ini merupakan rahmat
dari Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana kalam-Nya
ketika memuji Rasul-Nya yang mulia:

"Karena disebabkan rahmat Allah lah engkau dapat bersikap
lemah lembut dan lunak kepada mereka. Sekiranya engkau itu
adalah seorang yang kaku, keras lagi berhati kasar, tentu
mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu." (Ali
'Imran: 159)

Dalam tanzil-Nya, Allah subhanahu wa ta`ala juga
memerintahkan seorang suami untuk bergaul dengan istrinya
dengan cara yang baik.

"Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara
yang baik." (An-Nisa: 19)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat
di atas, menyatakan: "Yakni perindah ucapan kalian
terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan dan
penampilan kalian sesuai kadar kemampuan. Sebagaimana
engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka
engkau (semestinya) juga berbuat hal yang sama. Allah
ta`ala berfirman dalam hal ini:

"Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang ma`ruf." (Al-Baqarah: 228)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri telah
bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap
keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling
baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku)."

Termasuk akhlak Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau
sangat baik hubungannya dengan para istrinya. Wajahnya
senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu
rayu dengan istri, bersikap lembut terhadap mereka dan
melapangkan mereka dalam hal nafkah serta tertawa bersama
istri-istrinya. Sampai-sampai, beliau pernah mengajak
'Aisyah Ummul Mukminin berlomba, untuk menunjukkan cinta
dan kasih sayang beliau terhadapnya." (Tafsir Ibnu Katsir,
1/477)

Masih menurut Al-Hafidz Ibnu Katsir: "(Termasuk cara
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam
memperlakukan para istrinya secara baik) setiap malam
beliau biasa mengumpulkan para istrinya di rumah istri
yang mendapat giliran malam itu. Hingga terkadang pada
sebagian waktu, beliau dapat makan malam bersama mereka.
Setelah itu, masing-masing istrinya pun kembali ke rumah.
Beliau pernah tidur bersama salah seorang istrinya dalam
satu pakaian. Beliau meletakkan rida (semacam pakaian
ihram bagian atas)-nya dari kedua pundaknya, dan tidur
dengan kain/ sarung. Dan biasanya setelah shalat 'Isya,
beliau shallallahu 'alaihi wasallam masuk rumah dan
berbincang-bincang sejenak dengan istrinya sebelum tidur
guna menyenangkan mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/477)

Demikian yang diperbuat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
seorang Rasul pilihan, pemimpin umat, sekaligus seorang
suami dan pemimpin dalam rumah tangganya. Kita dapati
petikan kisah beliau dengan keluarganya, sarat dengan
kelembutan dan kemuliaan akhlak. Sementara kita diperintah
untuk menjadikan beliau sebagai contoh teladan.

"Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah contoh
yang baik bagi orang yang mengharapkan perjumpaan dengan
Allah dan hari akhir. Dan dia banyak mengingat Allah."
(Al-Ahzab: 21)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di rahimahullah
berkata: "Ayat Allah ta`ala:

(Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara
yang ma`ruf) meliputi pergaulan dalam bentuk ucapan dan
perbuatan. Karena itu, sepantasnya bagi suami untuk
mempergauli istrinya dengan cara yang ma`ruf, menemani dan
menyertai (hari-hari bersamanya) dengan baik, menahan
gangguan terhadapnya (tidak menyakitinya), mencurahkan
kebaikan dan memperbagus hubungan dengannya, termasuk
dalam hal ini pemberian nafkah, pakaian dan semisalnya.
Dan hal ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan."
(Taisir Al-Karimirir Rahman, hal. 172)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri menjadikan
ukuran kebaikan seseorang bila ia dapat bersikap baik
terhadap istrinya. Beliau pernah bersabda:

"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling
baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian
adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya." (HR.
Ahmad 2/527, At-Tirmidzi no. 1172. Dihasankan oleh
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad,
2/336-337)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan:

Karena para istri adalah makhluk Allah yang lemah sehingga
sepantasnya menjadi tempat curahan kasih sayang. (Tuhfatul
Ahwadzi, 4/273)

Di sisi lain, beliau shallallahu alaihi wasallam
memerintahkan untuk berhias dengan kelembutan, sebagaimana
tuntunan beliau kepada istrinya Aisyah:

"Hendaklah engkau bersikap lembut ." (Shahih, HR. Muslim
no. 2594)

Dan beliau shallallahu alaihi wasallam menyatakan:

"Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu
melainkan ia akan menghiasinya (menjadikan sesuatu itu
indah). Dan tidaklah dihilangkan kelembutan itu dari
sesuatu melainkan akan memperjeleknya." (Shahih, HR.
Muslim no. 2594)

"Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala
hal." (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6024)

"Dan Allah memberikan kepada sikap lembut itu dengan apa
yang tidak Dia berikan kepada sikap kaku/ kasar dan dengan
apa yang tidak Dia berikan kepada selainnya." (Shahih, HR.
Muslim no. 2593)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: "Dalam
hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan sikap lemah lembut
(ar-rifq dengan makna yang telah disebutkan, red) dan
penekanan untuk berakhlak dengannya. Serta celaan terhadap
sikap keras, kaku, dan bengis. Kelembutan merupakan sebab
setiap kebaikan. Yang dimaksud dengan Allah memberikan
kepada sikap lembut ini adalah Allah memberikan pahala
atasnya dengan pahala yang tidak diberikan kepada
selainnya.

Al-Qadhi berkata: "Maknanya dengan kebaikan tersebut akan
dimudahkan tercapainya tujuan-tujuan yang diinginkan dan
akan dimudahkan segala tuntutan, maksud dan tujuan yang
ada. Di mana hal ini tidak dimudahkan dan tidak disediakan
untuk yang selainnya." (Syarah Shahih Muslim, 16/145)

Dalam hubungan dengan istri dan keluarga, seorang suami
harus membiasakan diri dengan sifat rifq ini. Termasuk
kelembutan seorang suami ialah bila ia menyempatkan untuk
bercanda dan bersenda gurau dengan istrinya. Hal ini
dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan
istrinya sebagaimana dinukilkan di atas. 'Aisyah
radhiallahu anha menceritakan apa yang ia alami dengan
suami dan kekasihnya yang mulia. Dalam sebuah safar
(perjalanan), Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda kepada para shahabatnya:

"Majulah kalian (jalan duluan)". Maka mereka pun berjalan
mendahului beliau. Lalu beliau berkata kepada 'Aisyah
(yang ketika itu masih belia dan langsing): "Ayo, kita
berlomba lari". Kata Aisyah: "Akupun berlomba bersama
beliau dan akhirnya dapat mendahului beliau". Waktupun
berlalu. Ketika Aisyah telah gemuk, Rasulullah kembali
mengajaknya berlomba dalam satu safar yang beliau lakukan
bersama 'Aisyah. Beliau bersabda kepada para shahabatnya:
"Majulah kalian". Maka mereka pun mendahului beliau. Lalu
beliau berkata kepadaku: "Ayo, kita berlomba lari". Kata
'Aisyah: "Aku berusaha mendahului beliau namun beliau
dapat mengalahkanku". Mendapatkan hal itu, beliau pun
tertawa seraya berkata: "Ini sebagai balasan lomba yang
lalu (kedudukannya seri, red)." (HR. Abu Dawud no. 2214.
Asy-Syaikh Muqbil menshahihkan sanad hadits ini dalam
takhrij beliau terhadap Tafsir Ibnu Katsir, 2/286).

Allah ta`ala Yang Maha Adil menciptakan wanita dengan
segala kekurangan dan kelemahannya. Ia butuh dibimbing dan
diluruskan karena ia merupakan makhluk yang diciptakan
dari tulang yang bengkok. Namun meluruskannya butuh
kelembutan dan kesabaran agar ia tidak patah.

"Wanita itu seperti tulang rusuk, bila engkau
meluruskannya engkau akan mematahkannya. Dan bila engkau
ingin bersenang-senang dengannya, engkau dapat
bersenang-senang dengannya namun pada dirinya ada
kebengkokan."

Demikian disabdakan Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari
dalam Shahih-nya (no. 5184) dan Al-Imam Muslim dalam
Shahih-nya (no. 1468). Dan hadits ini diberi judul bab
oleh Al-Imam Al-Bukhari dengan bab Al-Mudarah ma`an Nisa
(Bersikap baik, ramah dan lemah lembut terhadap para
istri).

Rasul yang mulia, shallallahu 'alaihi wasallam, juga
bersabda:

"Berwasiatlah kalian kepada para wanita (istri) karena
mereka itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian yang
paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian yang paling
atas. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya, maka
engkau akan mematahkannya. Namun bila engkau biarkan
begitu saja (tidak engkau luruskan) maka dia akan terus
menerus bengkok. Karena itu berwasiatlah kalian kepada
para wanita (istri)." (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 5186 dan
Muslim no. 1468)

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

"Dan bila engkau paksakan untuk meluruskannya, maka engkau
akan mematahkannya. Dan patahnya adalah dengan
menceraikannya."

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullah berkata:
"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam 
maksudnya adalah aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat
baik dengan para wanita (istri). Maka terimalah wasiatku
ini berkenaan dengan diri mereka, dan amalkanlah."

Beliau melanjutkan: "Dan dalam sabda Nabi 

seakan-akan ada isyarat agar suami meluruskan
istrinya dengan lembut, tidak berlebih-lebihan hingga
mematahkannya. Dan tidak pula membiarkannya hingga ia
terus menerus di atas kebengkokannya." (Fathul Bari,
9/306)

Dalam hadits ini juga ada beberapa faidah, di antaranya
disukai untuk bersikap baik dan lemah lembut terhadap
istri untuk menyenangkan hatinya, Di dalam hadits ini juga
menunjukkan bagaimana mendidik wanita dengan memaafkan dan
bersabar atas kebengkokan mereka. Siapa yang tidak
berupaya meluruskan mereka (dengan cara yang halus), dia
tidak akan dapat mengambil manfaat darinya. Padahal, tidak
ada seorang pun yang tidak butuh dengan wanita untuk
mendapatkan ketenangan bersamanya dan membantu dalam
kehidupannya. Hingga seakan-akan Nabi mengatakan:
"Merasakan kenikmatan dengan istri tidak akan sempurna
kecuali dengan bersabar terhadapnya". Dan satu faidah lagi
yang tidak boleh diabaikan adalah tidak disenangi bagi
seorang suami untuk menceraikan istrinya tanpa sebab yang
jelas. (Lihat Fathul Bari, 9/306, Syarah Shahih Muslim,
10/57)

Dengan adanya tuntunan beliau di atas, seyogyanya seorang
suami menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dengan penuh
kelembutan dan kasih sayang kepada istri dan keluarganya
yang lain. Sebagaimana istrinya pun diperintah untuk taat
kepadanya dalam perkara yang baik, sehingga akan terwujud
ketenangan di antara keduanya dan abadilah ikatan cinta
dan kasih sayang.

"Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan
untuk kalian istri-istri (pasangan hidup) dari jenis
kalian agar kalian merasakan ketenangan bersamanya dan Dia
menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kalian."
(Ar-Rum: 21)

"Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan
Dia menjadikan pasangan dari jiwa yang satu itu, agar jiwa
tersebut merasa tenang bersamanya." (Al-A`raf: 189)

Demikian kemuliaan dan kelembutan Islam yang menuntut
pengamalan dari kita sebagai insan yang mengaku tunduk
kepada aturan Ilahi. Wallahu ta`ala a`lam bish-shawab.

/* Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini dengan
mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com */